Saturday, 3 April 2010

DOA SEORANG KEKASIH

Kekasihku..
kehidupan yang kau berikan
adalah cara untuk mengukur cintaku padamu dengan rindu
dan ajal yang kau datangkan
adalah obat rinduku padamu

Kekasihku..
layakkah kau mendengar doa-doaku yang menyertaka permintaan
sedang kau telah memberikan kecukupan

Kekasihku..
dalam siang dan malam aku merindukanmu
airmataku tumpah entah seberapa banyak sudah
bibirku bersenandung hinga habis kata untuk pertemuan yang indah

Ya ALLAH..
jika hamba mohon akan surgamu
tendangah hamba dari surgamu
dan jika hamba mohon jauhkan neraka dari hamba
maka masukkanlah hamba ke dalamnya
karena sesungguhnya..
hamba tak melayanimu layaknya seorang budak yang meminta upah

Sebagaimana mimpiku bertemu denganmu
maka kupersiapkan hari itu dengan sebuah senyum terindahku
seindah yang aku dapat ukir dan tunjukkan

Monday, 29 March 2010

DOA KEKASIH

Thursday, 25 February 2010

Fungsi Perwakilan Diplomatik

Pengertian


Diplomatik (diplomacy) berarti sarana yang sah atau legal, terbuka dan terang-terangan yang digunakan oleh suatu negara dalam melaksanakan politik luar negerinya.
Menurut Kepres Nomor 108 Tahun 2003 Tentang Organisasi Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri, perwakilan diplomatik adalah kedutaan besar Republik Indonesia dan perutusan tetap Republik Indonesia yang melakukan kegiatan diplomatik di seluruh wilayah negara penerima dan/atau pada organisasi internasional untuk mewakili dan memperjuangkan kepentingan bangsa, negara dan pemerintah Republik Indonesia.

B. Perwakilan Negara RI di Luar Negeri

1. Fungsi Perwakilan Diplomatik
Di Indonesia sehubungan dengan usaha menjalin hubungan internasional ini didasarkan pada UUD 1945 pasal 13 yang di dalamnya berisi :
 Presiden mengangkat duta dan konsul.
 Dalam hal mengangkat duta dan konsul presiden memperhatikan pertimbangan DPR.
 Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan meperhatikan pertimbangan DPR.
Jadi, fungsi diplomatik dalam arti politis adalah sebagai berikut :
• Mempertahankan kebebasan Indonesia terhadap imperialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya dengan melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
• Mengabdi kepada kepentingan nasional dalam mewujudkan masyrakat adil dan makmur.
• Menciptakan pesahabatan yang baik antar negara dalam mewujudkan pelaksanaan tugas negara perwakilan diplomatik.

2. Tugas pokok perwakilan diplomatik
Perwakilan diplomatik ( Duta besar ) meilik tugas pokok yang antara lain sebagai berikut :
• Menyelenggarakan hubungan dengan negara lain atau hubungan kepala negara dengan pemerintah asing.
• Mengadakan perundingan masalah masalah yang dihadapi oleh kedua negara itu dan berusaha untuk menyelesaikannya.
• Mengurus kepentingan negara serta warga negaranya di negara lain.
• Apabila dianggap perlu dapat bertindak sebagai tempat pencatatan sipil, paspor, dsb.

3. Fungsi perwakilan diplomatik menurut kongres Wina 1961
 Mewakili negara pengirim di dalam negara penerima.
 Melindungi kepentingan negara pengirim dan warga negaranya di negara penerima di dalam batas batas yang diijinkan oleh hukum internsional.
 Mengadakan persetujuan dengan pemerintah negara penerima.
 Memberikan keterangan tentang kondisi dan perkembangan negara penerima sesuai dengan UU dan melaporkan kepada pemerintah negara pengirim.
 Memelihara hubungan persahabatan antara kedua negara.

4. Peranan perwakilan diplomatik
a. Menetukan tujuan dengan menggunakan semua daya upaya dan tenaga dalam mencapai tujuan tersebut.
b. Menyesuaikan kepentingan bangsa lain dengan kepentingan nasional sesuai dengan tenaga dan daya yang ada.
c. Menentukan apakah tujuan nasional sejalan atau berbeda dengan kepentingan negara lain.
d. Menggunakan sarana dan kesempatan yang ada dan sebaik baikya dalam menjalankan tugas diplomatiknya.

5. Tujuan Diadakannya Hubungan Diplomatik
a. Melindungi warga negara yang berada di luar negeri
b. Menerima pengaduan
c. Memelihara kepentingan negaranya di negara penerima


C. Perwakilan Negara di Negara Lain dalam Arti Politis

1. Pengangkatan dan Penerimaan Perwakilan Diplomatik
Persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembukaan atau pertukaran perwakilan diplomatik (dalam arti politis) maupun konsuler (dalam arti non-politis) dengan negara lain adalah sebagai berikut :
1) Harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak (mutual conceat) yang akan mengadakan pembukaan atau pertukaran diplomatik maupun konsuler. Kesepakatan tersebut berdasarkan Pasal 2 Konvensi Wina 1961, dituangkan dalam bentuk : persetujuan bersama (joint agreement) dan komunikasi bersama (joint declaration).
2) Prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku, yaitu setiap negara dapat melakukan hubungan atau pertukaran perwakilan diplomatik berdasarkan atas prinsip-prinsip hubungan yang berlaku dan prinsip timbal balik (reciprosity).

Adapula Kepres RI bab V No.108 Thn.2003 Tentang Kepegawaian, Pengangkatan, Pemberhentian, dan Pendidikan . Bab ini terdiri dari pasal 12 – 17 yaitu :

Pasal 12
Formasi kepegawaian pada Perwakilan ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 13
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh dan Wakil Tetap Republik Indonesia pada Perwakilan Diplomatik dan Konsul Jenderal dan Konsul pada Perwakilan Konsuler diangkat dan diberhentikan oleh Presiden sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 14
Wakil Kepala Perwakilan Diplomatik dan Kuasa Usaha Tetap pada Perwakilan Diplomatik diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Luar Negeri.

Pasal 15
(1) Pejabat Diplomatik dan Staf Non Diplomatik diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Luar Negeri.
(2) Atase Pertahanan, Atase Teknis, dan Staf Teknis diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Luar Negeri atas usul Pimpinan Departemen atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pengangkatan dan pemberhentian dalam masa tugas bagi Pejabat Diplomatik, Atase Pertahanan, Atase Teknis, Staf Non Diplomatik, dan Staf Teknis diatur lebih lanjut oleh Menteri Luar Negeri.

Pasal 16
Tata cara penerimaan, pendidikan dan pelatihan khusus diplomatik dan konsuler serta pengaturan penugasan, pengembangan, dan pemberhentian Pejabat Dinas Luar Negeri diatur lebih lanjut oleh Menteri Luar Negeri dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 17
(1) Pembinaan karir dan jenjang kepangkatan pejabat Diplomatik dilakukan melalui jabatan fungsional sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Pembinaan karir dan jenjang kepangkatan Atase Pertahanan, Atase Teknis, dan Staf Teknis ditetapkan oleh masing-masing Departemen atau Lembaga Pemerintah Non Departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Kronologis pengangkatan perwakilan diplomatik

3. Tugas dan Fungsi Perwakilan Diplomatik
a. Tugas umum seorang perwakilan diplomatik adalah mencakup hal-hal berikut :
1) Representasi, perwakilan diplomatik mewakili kebijakan politik pemerintah negaranya dapat melakukan protes, mengadakan penyelidikan pertanyaan denganpemerintah negara penerima.
2) Negoisasi, untuk mengadakan perundingan atau pembicaraan baik dengan negara dimana ia diakreditasi maupun dengan negara lain.
3) Observasi, yaitu untuk menelaah dengan teliti setiap kejadian atau peristiwa di negara penerimayang mungkin dapat mempengaruhi kepentingan negaranya.
4) Proteksi, melindungi pribadi, harta benda, dan kepentingan-kepentingan warga negaranya yang berada di luar negeri
5) Relasi, untuk meningkatkan hubungan persahabatan antar negara pengirim dengan negara penerima, baik di bidang ekonomi, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

b. Fungsi Perwakilan diplomatik menurut Kepres Nomor 108 Tahun 2003 Tentang Organisasi Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri :
1. Peningkatan dan pengembangan kerja sama politik dan keamanan, ekonomi, sosial dan budaya dengan Negara Penerima dan/atau Organisasi Internasional;
2. Peningkatan persatuan dan kesatuan, serta kerukunan antara sesama Warga Negara Indonesia di luar negeri;
3. Pengayoman, pelayanan, perlindungan dan pemberian bantuan hukum dan fisik kepada Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia, dalam hal terjadi ancaman dan/atau masalah hukum di Negara Penerima, sesuai dengan peraturan perundang-undangan nasional, hukum internasional, dan kebiasaan internasional;
4. Pengamatan, penilaian, dan pelaporan mengenai situasi dan kondisi Negara Penerima;
5. Konsuler dan protokol;
6. Perbuatan hukum untuk dan atas nama Negara dan Pemerintah Republik Indonesia dengan Negara Penerima;
7. Kegiatan manajemen kepegawaian, keuangan, perlengkapan, pengamanan internal Perwakilan, komunikasi dan persandian;
8. Fungsi-fungsi lain sesuai dengan hukum dan praktek internasional.

c. Fungsi Perwakilan Diplomatik menurut Kongres Wina 1961 mencakup hal-hal berikut :
1. Mewakili negara
2. Melindungi kepentingan negara pengirim dan warga negaranya di negara penerima di dalam batas-batas yang diizinkan oleh hukum internasional
3. Mengadakan persetujuan dengan pemerintah negara penerima
4. Memberikan keterangan tentang kondisi dan perkembangan negara penerima sesuai dengan undang-undang dan melaporkan kepada pemerintah negara pengirim
5. Memelihara hubungan persahabatan antara dua negara.

D. Perangkat Perwakilan Diplomatik.
1. Duta besar berkuasa penuh ( Ambassador ).
Duta besar merupakan duta yang berada di tingkatan tertinggi dan mepunyai kekuasaan penuh dan luar biasa dan biasanya ditempatkan di negara negara yang banyak menjalin hubungan timbal balik.
2. Duta ( Gerzant ).
Wakil diplomatik yang pangkatnya lebih rendah dari duta besar, dalam menyelesaikan segala persoalan kedua negara dia diharuskan berkonsultasi dengan pemerintahnya.
3. Menteri residen.
Menteri residen dianggap bukan sebagai wakil pribadi kepala negara, dia hanya engurus urusan negara. Mereka ini pada dasarnya tidak berhak mengadakan pertemuan dengan kepala negara dimana mereka bertugas.
4. Kuasa usaha ( Charge de Affair ).
Kuasa usaha yang tidak diperbantukan kepada kepala negara dapat dibedakan atas :
a. Kuasa usaha tetap menjabat kepala dari suatu perwakilan.
b. Kuasa usaha sementara yang melaksanakan pekerjaan dari kepala perwakilan ketika pejabat ini belum atau tidak ada di tempat.

5. Atase.
Atase adalah pejabat pembantu dari duta besar berkuasa penuh. Atase ini terbagi menjadi dua yaitu :
a. Atase pertahanan.
Atase ini dijabat oleh seorang perwira militer yang diperbantukan depertemen luar negeri dan diperbantukan di kedutaan besar serta diberikan kedudukan sebagai seorang diplomat yang bertugas memberikan nasihat di bidang militer dan pertahanan keamanan kepada duta besar berkuasa penuh.
b. Atase teknis.
Atase ini dijabat oleh seorang pegawai negeri yang tidak berasal dari depertemen luar negeri dan ditempatkan di salah satu kedutaan besar, atase ini berkuasa penuh dalam menjalankan tugas tugas teknis sesuai dengan tugas pokok dari departemennya sendiri.


E. Kekebalan dan Keistimewaan Perwakilan Diplomatik
Para diplomat, stafnya, bahkan gedung misi mempunyai kekebalan dan keistimewaan yang dipraktekkan sesuai dengan Konvensi Wina 1961. Pemberian kekebalan dan keistimewaan diplomatik itu berpedoman kepada asas "Par in parem imperium non habet" (suatu negara berdaulat tidak boleh menerapkan yurisdiksinya atas negara berdaulat lain).
Pemberian kekebalan dan keistimewaan diplomatik merupakan aspek yang sangat penting untuk menjamin kelancaran pelaksanaan tugas-tugas dan pelaksaan fungsi para pejabat diplomatik secara efisien dari negara yang diwakilinya.
1. Kekebalan Perwakilan Diplomatik
Kekebalan diplomatik (immunity) bersifat involability (tidak dapat diganggu gugat) antara alin mencakup :
a. Pribadi Pejabat Diplomatik, yaitu mencakup kekebalan terhadap alat kekuasaan negara penerima, hak mendapat perlindungan terhadap gangguan dari serangan atas kebebasan dan kehormatannya, dan kekebalan dari kewajiban menjadi saksi.
b. Kantor perwakilan (rumah kediaman), yaitu mencakup kekebalan gedung kedutaan, halaman, rumah kediaman yang ditandai dengan lambang bendera atau daerah ekstrateritorial. Bila ada penjahat atau pencari suaka politik masuk ke dalam kedutaan, maka ia dapat diserahkan atas permintaan pemerintah karena para diplomat tidak memiliki hak asylum, hak untuk memberi kesempatan kepada suatu negara untuk memberi kesempatan kepada warga negara asing untuk melarikan diri.
c. Korespodensi diplomatik, kekebalan yang mencakup dokumen, arsip, surat menyurat, termasuk kantor diplomatik dan sebagainya kebal dari pemeriksaan.

atau

• Hak Immunitas.
Hak immunitas adalah hak yang menyangkut diri pribadi seorang diplomat serta gedung perwakilannya.dengan hak ini para diplomat mendapat hak istimewa atas keselamatan pribadi serta harta bendanya, mereka juga tidak tunduk kepada yuridiksi di dalam negara tempat mereka bertugas baik dalam perkara perdata maupun pidana.

• Hak Ekstrateritorial.
Hak ekstrateritorial adalah hak kebebasan diplomat terhdap daerah perwakilannya termasuk halaman bangunan serta perlengkapannya seperti bendera,lambang negara,surat surat dan dokumen bebas sensor,dalam hal ini polisi dan aparat keamanan tidak boleh masuk tanpa ada ijin pihak perwakilan yang bersangkutan

2. Keistimewaan Perwakilan Diplomatik
Keistimewaan Perwakilan Diplomatik sebagaimana diatur dalam Konvensi Wina 1961 dan 1963 mencakup :
a. Pembebasan dari kewajiban membayar pajak, yaitu antara lain pajak penghasilan, kekayaan, kendaraan bermotor, radio, televisi, bumi dan bangunan, rumah tangga, dan sebagainya.
b. Pembebasan dari kewajiban pabean, yaitu antara lain bea masuk, bea keluar, bea cukai terhadap barang-barang keperluan dinas, misi perwakilan, barang keperluan sendiri, keperluan rumah tangga, dan sebagainya.


F. Perwakilan Nonpolitis (Konsuler)
Dalam arti nonpolitis hubungan diplomatik suatu negara diwakili oleh korps konsuler yang terbagi dalam kepangkatan sebagai berikut :
1. Konsul jenderal.
Konsul jenderal adalah wakil resmi sebuah negara yang ditugaskan di luar wilayah metropolitan atau ibu kota sebuah negara di luar negeri. Kantor tempat konsul bertugas disebut konsulat atau konsulat jenderal.
2. Konsul dan Wakil konsul.
Konsul mengepalai satu kekonsulan yang kadang-kadang diperbantukan kepada konsul jenderal. Wakil konsul diperbantukan kepada konsul atau konsul jenderal yang kadang diserahi pimpinan kantor konsuler.
3. Agen konsul.
Agen konsul diangkat oleh konsul jenderal dengan tugas untuk mengurus hal hal yang bersifat terbatas dan berhubungan dengan kekonsulan. Agen konsul ini ditugaskan di kota kota yang termasuk kekonsulan.

a. Tugas-tugas Konsul
Tugas-tugas yang berhubungan dengan kekonsulan antara lain mencakup bidang bidang sebagai berikut :
 Bidang ekonomi.
Menciptakan tata ekonomi dunia baru dengan menggalakkan ekspor komoditas nonmigas, promosi perdagangan, mengawasi pelayanan, pelaksanaan perjanjian perdagangan, dll.
 Bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Melakukan pertukaran kebudyaan dan pelajar.
 Bidang-bidang lain seperti :
a. Memberikan paspor dan dokumen perjalanan kepada warga pengirim dan visa atau dokumen kepada orang yang ingin mengunjungi negara pengirim.
b. Bertindak sebagai notaris dan pencatat sipil serta menyelenggarakan fungsi adiministratifnya.
c. Bertindak sebagai subjek hukum dalam praktek dan prosedur pengadilan atau badan lain di negara penerima.


b. Fungsi Perwakilan Konsul
Menurut Kepres Nomor 108 Tahun 2003 Tentang Organisasi Perwakilan Republik Indonesia di Luar Negeri, perwakilan konsul menyelenggarakan fungsi :
 Perlindungan terhadap kepentingan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia di wilayah kerja dalam wilayah Negara Penerima;
 Pemberian bimbingan dan pengayoman terhadap Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia di wilayah Negara Penerima;
 Konsuler dan protokol;
 Peningkatan hubungan perekonomian, perdagangan, perhubungan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan;
 Pengamatan, penilaian, dan pelaporan mengenai kondisi dan perkembangan di wilayah kerja dalam wilayah Negara Penerima;
 Kegiatan manajemen kepegawaian, keuangan, perlengkapan, pengamanan internal Perwakilan, komunikasi dan persandian;
 Fungsi-fungsi lain sesuai dengan hukum dan praktek internasional.


c. Perbedaan Korps Diplomatik dengan Korps Konsuler
Korps Diplomatik
• Memelihara kepentingan negaranya melalui hubungan tingkat pejabat pusat
• Berhak membuat hubungan plitik
• Mempunyai hak ektrateritorial
• Satu negara hanya mempunyai satu perwakilan diplomatik
Korps Konsuler
• Memelihara kepentingan negaranya melalui hubungan tingkat daerah
• Membuat hubungan Non politik
• Tidak mempunyai hak ektrateritorial
• Satu negara dapat memiliki lebih dari satu
.

G. Mulai dan Berakhirnya Fungsi Misi Perwakilan Diplomatik-Konsuler


Hal Diplomatik Konsuler
Mulai berlakunya fungsi Saat menyerahkan surat kepercayaan (Lettre de Creance / Menurut pasal 13 Konvensi Wina 1961) Memberitahukan kepada negara penerima dengan layak (Pasal dan Konvensi Wina 1963)
Berakhirnya fungsi 1) Sudah habis masa jabatan
2) Ia ditarik kembali oleh pemerintah negaranya
3) Karena tidak disenangi (dipersona non grata)
4) Kalau negara penerima perang negara pengirim (pasal 43 Konvensi Wina 1961) (Pasal 23, 24, dan 25 Konvesi Wina 1963)
1) Fungsi seorang pejabat konsuler telah berakhir
2) Penarikan dari negara pengirim
3) Pemberitahuan bahwa ia bukan lagi sebagai anggota staf Konsuler


Mulai dan Berakhirnya Fungsi Misi Perwakilan Diplomatik-Konsuler juga diatur dalam Kepres RI bab V No.108 Thn.2003 Tentang Kepegawaian, Pengangkatan, Pemberhentian, dan Pendidikan yang terdiri dari pasal 12 – 17.

Friday, 19 February 2010

keluarga pedrosa

basilia ramal:Sus padres le enseñaron que la única manera de progresar era con modestia y pensando que había mucho que aprender.
antonio pedrosa:Antonio Pedrosa hizo lo posible y lo imposible para convertir la pasión de su hijo en un juego, en un entretenimiento competitivo.

eric pedrosa: Actualmente sigue la carrera como ciclista, el otro deporte favorito de Dani.

Alberto Puig: herido para siempre, ideó la Movistar Cup en busca del campeón que él no pudo ser. Y, entre 6.000 candidatos, descubrió a Dani Pedrosa.

Raúl Jara: fue compañero de Dani en sus comienzos. Actualmente es director de la academia MotoGp en Barcelona. Jara ha participado el el mundial de motociclismo en la categoría de 125cc y 250cc.
1997: 3º Campeonato de España minimotos

1998: Campeón de España de minimotos

1999: 8º Trofeo Movistar Activa Joven Cup (Honda RS 125)

2000: 4º Campeonato de España 125cc. (Honda RS 125)

2001: 8º Campeonato del Mundo 125cc. (Honda RS 125)

2002: 3º Campeonato del Mundo 125cc. (Honda RS 125)2003: Campeón del Mundo de 125cc. (Honda RS 125)

2004: Campeón del Mundo de 250cc. (Honda RSW 250)

2005: Campeón del Mundo de 250cc. (Honda RSW 250)
2006: 5º en el mundial de MotoGP (Honda RC 211V)

2006: 2º en el mundial de MotoGP (Honda RC 212V)
Primera carrera: 1996 Campeonato España Minibikes

Primer Gran Premio: 2001 GP Japón (125cc.

Primera Pole: 2002 GP Japón (125cc.)

Primera Vuelta Rápida: 2002 GP Pacífico (125cc.)

Primer Podio: 2001 GP Comunitat Valenciana (125cc.)

Primera Victoria: 2002 GP Holanda (125cc.)

Total Grandes Premios disputados: 111 (46 en 125cc., 30 en 250cc.y 35 en MotoGP)

Vueltas Rápidas: 18 (5 en 125cc. y 13 en 250cc.y 4 en MotoGp)

Poles: 23 (9 en 125cc. , 8 en 250cc.y 6 en MotoGp)

Podios: 57 (17 en 125cc., 24 en 250cc y 16 en MotoGP)

Victorias: 26 (8 en 125cc.,14 en 250cc.y 4 en MotoGP)

daniel pedrosa


Lugar de nacimiento: Castellar del Vallés - Cataluña - España
Lugar de residencia: Londres - Reino Unido
Peso: 48 kg
Altura: 159 cm
Aficiones Personales: Ciclismo, supermotard, motocross, trial, cine, videojuegos
Nacionalidad: Española
Años como piloto Repsol: 3



La primera vez que Daniel Pedrosa se subió a una moto tenía cuatro años y su montura de entonces, una Italjet 50 de motocross, incorporaba ruedas laterales de apoyo. Con seis años, Dani ya empezó a correr en minimotos; su primera pocket bike fue la réplica en miniatura de una Kawasaki de calle. A ésta le siguieron otras monturas, los circuitos y las carreras entre amigos, siempre como diversión y sin imaginar siquiera lo que le iba a deparar el destino.

Corría el año 1996 cuando Pedrosa, que entonces contaba diez años, cursó su inscripción al Campeonato de España de minimotos. Empezó a correr en circuitos de karts por toda la geografía española, acompañado siempre por sus padres y con la moto en el maletero del coche. Les acompañaba su hermano pequeño, Eric, cinco años menor que él y que actualmente también hace sus pinitos sobre dos ruedas. Ese año, Pedrosa quedó sexto en la primera carrera debido a un problema con el tubo de escape de su moto. Pero ya en la segunda carrera subió por primera vez al podio. Disfrutó con la experiencia y tras finalizar segundo la temporada decidió, volver a correr el campeonato al año siguiente.

Tuvo mala suerte y contrajo la varicela unos días antes del comienzo del campeonato de 1997. Era el principio de la temporada y ni tan siquiera podía ponerse el casco. Debido a ese contratiempo, a final de año Pedrosa quedó a ocho puntos del líder, en la tercera posición de la clasificación general.

Aunque en 1998 logró por fin hacerse con el título, las carreras aún eran un pasatiempo. Por aquél entonces la Copa Aprilia 50 y el Open RACC eran copas de promoción muy conocidas y Pedrosa se planteó participar en alguna de ellas. Pese a sus buenos tiempos, decidió dejar las motos y empezar a correr en mountain bike por falta de recursos y apoyo. Cuando estaba a punto de obtener la licencia para empezar a correr en bicicleta, la familia se enteró a través de un amigo de que se estaba organizando la Movistar Activa Cup, una copa de promoción con motos de competición. Pasar de minimotos a motos de carreras suponía un cambio enorme y Dani era aún muy joven, pero a principios de 1999 decidieron enviar una solicitud para hacer las pruebas en el circuito madrileño del Jarama. El fin de semana anterior a las pruebas, Pedrosa aprendió a pilotar una moto con marchas que le prestaron en un polígono industrial cercano a su casa. Nunca antes había corrido en un circuito y además de los nervios, la moto era tan alta que los pies no le llegaban al suelo. A pesar de todo, el joven de 13 años pasó las pruebas de selección y ese año disputó la Movistar Activa Cup terminando en una meritoria octava posición. De los veinticinco pilotos que compitieron, sólo tres pasaron a formar parte del equipo de Alberto Puig, quien, visto el enorme potencial de Pedrosa, lo incluyó entre los elegidos, junto a Joan Olivé y Raúl Jara.

En 2000 tomó parte en el Campeonato de España integrado en el Movistar Junior Team. Terminó cuatro de las seis carreras que se disputaron, logró cuatro poles y se hizo con el cuarto lugar en el Campeonato, por detrás de Joan Olivé, Raúl Jara y Toni Elias. Fue entonces cuando Alberto Puig le informó de que correría en el Mundial de Motociclismo de 125cc. Pedrosa, que por aquél entonces tenía 14 años, no daba crédito; su sueño se estaba haciendo realidad. En la primera carrera, en Suzuka, estaba entre los últimos en la parrilla de salida; nunca antes había visto tantos pilotos corriendo juntos y, sobre todo, en una categoría tan competitiva. Recuerda que se asustó en la primera curva, algo que nunca más le ha vuelto a suceder.

La del 2001 fue una temporada de aprendizaje para Dani Pedrosa, pero aún así logró dos podios, un tercer puesto en Valencia y otro en Motegi. En varias ocasiones tomó la salida entre los primeros y, aunque apenas tenía experiencia, compitió codo con codo con pilotos de la talla de Toni Elias, Manuel Poggiali o Youichi Ui. Finalmente fue octavo en el campeonato. Su tercera posición final en el Mundial del 2002, en el que luchó por el título junto a Manuel Poggiali o Arnaud Vincent, fue la confirmación de su tremendo potencial. Así lo determinaron los nueve podios y las seis poles logradas en su categoría ese año, y sus tres victorias en Assen, Motegi y Valencia. Aunque tuvo que conformarse con la tercera posición final, fue considerado como el piloto con mayor proyección y más combativo de la categoría.

Dani Pedrosa afrontó su tercera campaña del Campeonato del Mundo de 125cc. con determinación y con el título como objetivo. A lo largo de la temporada mostró una madurez más típica de un piloto veterano que de un joven de 18 años, y se labró una reputación como uno de los jóvenes con más talento de este deporte. El de Castellar se proclamó Campeón de 125cc. en Malasia, a falta de dos GP para el final, tras acumular cinco victorias y un total de seis podios. Tan sólo una semana después, la desgracia se cebó en el joven piloto, que sufrió un escalofriante accidente durante los entrenamientos del Gran Premio de Australia, en el que se rompió los dos tobillos.

Tras una dura recuperación, en 2004 y bajo la tutela de Alberto Puig, su mentor y persona de confianza, el joven piloto dio el salto a 250cc. Desde un principió se planteó la temporada como de aprendizaje y adaptación a la categoría, y no con la finalidad de obtener el título, esta vez en el cuarto de litro. Sorprendió desde los primeros entrenamientos de la temporada, y el trabajo y la dedicación, tanto del joven piloto como de su equipo, pronto dieron su fruto. Se adjudicó la primera prueba de la temporada disputada en Sudáfrica, después de una espectacular lucha con De Puniet. Tras el Gran Premio de Brasil se situó líder de la clasificación general, posición que ya no abandonó hasta final del campeonato. En su primera temporada en 250cc. se proclamó Campeón del Mundo en Australia, y con tan sólo 19 años, el más joven de la historia, quince años después de que lo hiciera Sito Pons. Además de las siete victorias que logró, fue la gran regularidad de la que hizo gala a lo largo del año la que le hizo valedor del título. Tan sólo se apeó del podio en tres ocasiones; una por caída bajo el diluvio de Jerez, y dos cuartos puestos en Estoril y Phillip Island.

Con mayor experiencia y madurez, Dani Pedrosa afrontaba como gran favorito su segunda temporada en 250cc. La considerable competencia a la que tuvo que hacer frente, la climatología adversa de principios de temporada y la lesión en el hombro que se produjo en los entrenamientos del Gran Premio de Japón, hicieron que 2005 no fuese un año fácil para el piloto Repsol. Al final, 51 puntos fueron suficientes para que el pupilo de Alberto Puig se hiciese con su tercer cetro Mundial en el circuito australiano de Phillip Island, dos carreras antes del final de la temporada 2005.

En el primer Gran Premio de la temporada, disputado en Jerez, el vigente campeón cumplió con su papel y logró su primera victoria en el trazado andaluz. Poco amigo de las carreras pasadas por agua, en 2005 Pedrosa se sobrepuso a sus demonios, ya que la climatología se mostró adversa en numerosas ocasiones. En Donington y bajo un intenso aguacero, logró un meritorio cuarto puesto que suponía su mejor resultado en una carrera disputada en condiciones de lluvia. El joven piloto Repsol lideró la clasificación prácticamente de principio a fin, y tan sólo abandonó la primera posición de la tabla durante un Gran Premio, tras el diluvio acaecido en Shangai. Poco a poco Dani fue ampliando su renta, primero sobre Dovizioso y después sobre Stoner, respecto al que logró una diferencia máxima de 63 puntos antes del Gran Premio de Japón.

Motegi supuso un punto de inflexión para Dani Pedrosa, al que las tres caídas sufridas en los entrenamientos mermaron tanto su condición física como su moral. A pesar de lesionarse el hombro derecho y salir a carrera sin apenas tiempo de poner a punto su Honda, su destreza y convicción le llevaron a alcanzar la meta por detrás del vencedor de la prueba, su compañero Aoyama. Llegó a Malasia sin apenas tiempo para recuperarse, y a pesar de lograr una meritoria segunda posición de la parrilla de salida, en la segunda vuelta se fue al suelo tras perder la rueda delantera. Primer cero en su casillero, hecho que aprovechó Stoner, vencedor del Gran Premio de Malasia, para reducir diferencias en la general. Todavía convaleciente, Pedrosa trabajó duro en Qatar y logró hacerse con la cuarta posición, a pesar de sufrir evidentes problemas de motor. Australia suponía el primer “match ball” para Dani, y el piloto Repsol no quiso dejar escapar la primera oportunidad. Realizando una buena salida, Dani supo leer la carrera a la perfección. Mientras Stoner se precipitaba y terminaba en el suelo durante la cuarta vuelta, Pedrosa se situaba detrás de Porto y se escapaba con el argentino camino de su séptima victoria de la temporada. Sólo le valía la victoria para ser Campeón, y en la misma línea de meta Dani superó al piloto argentino, sumando los 25 puntos necesarios para ganar su segundo título Mundial en 250cc.

Con el tercer Campeonato del Mundo bajo el brazo, en 2006 había llegado el momento de dar el salto definitivo en el Mundial de Motociclismo. Había llegado la hora de debutar en la categoría reina y subirse a una MotoGP. ¿Y qué mejor forma de hacerlo, que de la mano del mejor equipo de la última década, el Repsol Honda Team?. Una vez más, con la ayuda constante de Alberto Puig, se planificó el cambio de categoría con toda la prudencia necesaria ante un reto de este calibre, enfocando todo el trabajo en aprender y adaptarse a las grandes diferencias de una MotoGP de más de 240 CV de potencia y 150 kilos de peso, respecto a una 250cc. de unos 90 CV y 100 kilos. La dura preparación física realizada durante el invierno y una constante progresión en los entrenamientos de pretemporada fueron el preludio del extraordinario debut en la categoría, proclamándose “Rookie” del año gracias a sus dos victorias, otros seis podios, y la quinta posición final en el campeonato.

En el primer Gran Premio del año disputado en Jerez, los primeros destellos del talento de Pedrosa empezaron a deslumbrar a propios y extraños. En su primera carrera en la categoría y con tan sólo veinte años, consiguió acabar en una espléndida segunda posición, a apenas unas décimas del veterano vencedor Loris Capirossi. Tras aquella primera carrera, siguió brillando con mayor o menor fortuna en las siguientes pruebas, ya que si bien en Turquía se fue al suelo en la última vuelta mientras luchaba por la victoria con Melandri y Stoner, solo tardó quince días en conseguir su primera victoria en la categoría reina. Fue en el Gran Premio de China, donde logró un triunfo histórico acompañado en el podio por su compañero de equipo Nicky Hayden, que confirmó una vez más el enorme potencial del equipo Repsol Honda, a la postre Campeones del Mundo por equipos al final de la temporada.

Carrera a carrera Pedrosa siguió dejando pinceladas del enorme porvenir que le espera en la categoría, con apasionantes duelos con Valentino Rossi y Marco Melandri en Alemania y República Checa. Fue una temporada no exenta incluso de cierta dosis de dramatismo escenificado en la penúltima prueba del campeonato, cuando Nicky Hayden se jugaba buena parte de sus opciones al campeonato. Con el circuito de Estoril como escenario, en la quinta vuelta del Gran Premio Dani Pedrosa cometió un error que acabó con los dos pilotos por el suelo, emplazando toda la emoción del campeonato a la carrera final en Valencia. En el circuito Ricardo Tormo de Cheste, una gran labor de equipo de los dos pilotos permitió a Nicky Hayden alzarse con el Campeonato del Mundo de MotoGP, al equipo Repsol Honda con el título de constructores y a Dani Pedrosa con el título de “Rookie” del año. El broche perfecto para un año espléndido.

Durante el 2007, Dani Pedrosa ha conseguido codearse ante los mejores, pero el dominio absoluto de Stoner y las luchas constantes por llevar su moto, en no muy buenas condiciones, a lo más alto, ha dado como resultado una espléndida 2ª posición en el mundial. Cabe destacar las dos importantes y espléndidas victorias en el Gran Premio de Alemania y el de Valencia.

De cara a 2008, Dani tiene una nueva moto con la que trabajar para poder luchar en este 2008 frente a la imbatible Ducati de Stoner.

Actualmente, Dani Pedrosa vive entre Londres, donde se ha afincado. Entre sus aficiones se cuentan el ciclismo, con el que no ha dejado de disfrutar, así como el supermotard, el motocross o el trial. Fuera del mundo del deporte disfruta yendo al cine o pasando el tiempo con los amigos. Algunas veces se apunta a la discoteca, pero prefiere entretenerse con videojuegos de ordenador, ya que en los de motos y coches, bajo su punto de vista, el comportamiento es muy parecido a los de verdad. Dani memorizó los circuitos en los que ahora corre mucho antes de las minimotos, viendo cintas de video de las carreras de 500cc, en la época en la que corrían Rainey o Lawson, aunque su piloto favorito siempre ha sido Mick Doohan.

begining the novel

aq mlai tw pa yg aq ignkan saat mginjak kls 1 smp,,,sjak saat tu aq ign mgukir ksah hidup pd otak smw insan,,aq ign bercengkrama dgn halilintar,,mnjlajah isi alam smsta,,berpacu dng tnaga yg kupunya,,n berlari mnuju kbnaran yg aq cari,,,aq tak pduli skalipun aq hrs pergi jauh dari tnah kebsaranku,,,aq ign mrasakan malam yg ssungguhnya,,bertmpur dgn angin yg mrusak bnteng pertahananq,,n mlawan rsa tkut yg mmblenggu,,hingga aq mnjadi yg aq mw,,,,


eropa,tnggulah aq,,aq msh berjlan mnbas duri2 dhdpanq dgn pdang saktiq,,aq psti snggah d dratanmu,,,mnjlajah n mnaklukkan daratan matador,,mnelusuri arah garis mawar,,mnuju gereja umat kristiani n pcahkan kode da vinci,,brjalan trus mnuju indahnya big ben,,mmotret kAgungan gedung parlemen,,aq ign berlayar layaknya colombus,,aq tak peduli skalipun aq harus mmbeku pada suhu ekstrim d lautan artik,,trsesat d ktub utara,,n mlhat sang fajar yg terOmbang ambing d ujung lautan,,smpai saatnya nanti aq kan kmbali k tanah air,,mgisahkan perjalananq,,n aq abadikannya dlm sbuah bku yg mmuat ttg drita,haru,senyum,kpuasan,takut,letih,dahaga,kecewa n semangatq sbg "pencari berita"