Friday, 19 February 2010

mother

Saat nafas pertamaku ada aku hanyalah sesosok bayi kecil yang masih sangat rentan. Belum sanggup aku untuk berdiri seperti saat ini,belum dapat aku untuk melihat seperti apa diriku didalam kaca,bahkan tanganku belum dapat meraih pensil untuk menggoreskan tulisan seperti saat ini. Bibirku hanya dapat meneriakkan tangisan dan mataku pun hanya dapat terbuka sayu,namun tak ada keindahan yang dapat aku lihat selain kegelapan yang mengusik. Tepatnya kejadian itu aku alami pada tanggal 11 april 15 tahun yang lalu. Bukan hanya aku yang berjuang pada waktu itu,namun seseorangpun juga sedang berjuang bersamaku,beliau berjuang agar buah hatinya dapat merasakan keindahan bumi.
Tak terasa aku kini sudah semakin besar,aku sudah bisa berjalan,berbicara,melihat dengan sempurna dan berfikir layaknya manusia pada umumnya. Ku panggil seorang wanita yang telah melahirkanku dengan sebutan "Ibu",beliaulah yang menuntun kaki rentanku untuk berdiri tegap di atas tanah,hingga aku bisa berjalan bahkan berlari
Memasuki TK,aku tidaklah seperti anak-anak pada umumnya, aku adalah seorang anak yang hyperaktif,usil,jahil,nakal dsb. banyak teman-temanku yang ku buat menangis dan marah. Terkadang bu Guru memanggil ibuku atas kenakalanku tersebut,dan para orang tua murid yang memarahi ibuku karena anak-anak mereka telah menjadi korban kejahilanku. Jika ku ingat masa lalu,aku menjadi iba dengan ibuku,aku yang berbuat nakal,sedang ibu yang harus dimarahi. Tentunya aku juga harus mengingat kejadian 11 tahun yang lalu,dimana ibu menangis dan berdoa kepada yang kuasa agar menyelamatkanku yang sedang berada di ambang pintu kematian. Beberapa kali aku harus menjalani rawat inap di rumah sakit,entah sakit ini,sakit itu dsb. Dan ibu adalah orang yang paling cemas saat lagi-lagi tubuhku harus terbaring di rumah sakit,beliau menjagaku setiap waktu.begitu pula saat semua temanku sudah dapat membaca dan menulis,hanya aku yang belum bisa.itu karena aku adalah seorang anak yang pemalas.dengan rutin ibuku mengajariku menulis,membaca,dan membedakan antara huruf B dan D
Entah berapa kali sudah kubuat hati ibuku menangis dan satu diantaranya ketioka aku duduk dibangku sekolah dasar.waktu itu sepulang sekola,aku menghajar salah satu temanku yang berinisial L bersama temanku yang berinisial I,lalu orang tua teman yang ku hajar itu datang kesekolah,aku yang ketakutan bersama temanku I,lari dan bersembunyi didekat kantor TELKOM.aku tak berani pulang sampai sore,disaat yang bersamaan ayah dan ibuku panik tak karuan mencariku kesana kemari,melaporkan kekantor polisi dan sebagainya,setelah aku merasa aman kuberanikan diriku untuk pulang dengan berjalan kaki dari sekolah sampai rumah,kurang lebih menempuh jarak 2km.sampai dirumah aku bertemu dengan ayahku,aku dimarahi habis-habisan,dan aku dapati ibuku sedang menangis tersedu-sedu,beliau memelukku dan aku hanya diam karena aku tak tahu apapun,aku seperti anak bloon saat itu,karena sesungguhnya memang aku anak yang bloon.
Aku mulai mengikuti basket saat kelas 2smp,hampir setiap kali aku pulang dari berlatih,aku tidak punya tenaga lagi,bahkan terkadang aku tak sadarkan diri,lalu ibu menyuruhku untuk berhenti bermain basket karena saking khawatirnya.tapi aku tetap bersikukuh untuk bermain basket karena aku ingin menjadi pemain basket.setelah lama mengikuti basket fisikku tidak selemah dulu,aku juga sering mengikutu tour keluar kota.pada suatu ketika ibu tidak mengizinkanku untuk bertanding ke lamongan karena saat itu aku baru saja sembuh ,akhirnya aku marah besar dengan alasan aku sudah berlatih keras namun buat apa jika akhirnya aku tidak bisa bertanding.hari iu aku tidakk makan dan tidak keluar dari kamar,dan akhirnya ibu mengizinkan aku untuk ikut tanding. Mungkin karena takut aku sakit lagi, dengan syarat aku tidak boleh bermain full. Pernah juga ketika untuk pertama kalinya aku minta ibuku untuk melihat aku bertanding,karena aku tahu ayahku tidak mungkin bisa melihatnya karena sedang bekerja diluar kota.namun ibu tidak datang,aku begitu iri dengan ank-anak yang orang tuanya datang dan memberi dukungan, spontan aku marah.sesampainya dirumah aku buang tasku diatas lantai dan sepatu yang kulempar dengan kasar.ternyata ibuku dirumah sedang menjaga adikku yang sakit.akupun merasa bersalah,namun egoku terlalu tinggi untuk minta maaf.semua kenangan adalah memori yang tersimpan dalam otakku dan tak mungkin bisa kulupa.ibu adalah salah seorang insan yang memberikan warna dan membangun jatidiriku hingga kini,aku mungkin banyak mengukir tangis diwajah ibu.namun asal ibu tahu"chusnul sayang ibu".dihari ibu ini chusnul berdoa agar ibu selalu dalam lindungan yang kuasa.amin

0 comments:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment